Universitas Galuh Ciamis

RSS
Kebahagiaan adalah milik mereka yang memiliki impian dan punya keberanian untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

puisi


detak waktu
semilir angin yang berdesir,,
merangkulku bak perdu,,
menawanku setia dalam detak waktu,,
sendiri tak berarti,,
berdua tak kunjung bersua,,
tinggalah zaman menunggu dewasa,,
di saat umurku sudah menjelang senja,,
keteguk racun secawan,,
namun ajal tak kunjung segera datang,,
hanya semilir angin yang berdesir,,
menawanku setia dalam detaknya waktu,,

senja
menjelang senja..
mata tertuju di sebuah beranda..
mengenang masa ke masa,,,
ada yang tiada, merubahku malah tak menjadi dewasa,,,,
bijak sulit ku dapat,,
malah racun yang kian datang ke hati,,
menjalar tanpa ku sadari,,,
padahal mungkin ajal sudah menanti,,,
daun yang jatuh tak mungkin hidup lagi,,
mungkin dipungut,,mungkin dibiarkan tak berarti,,
sudut pandangku tlah tenggelam,,
dalam kelamnya kesenangan zaman,,
meski sadar dunia sebentar lagi kiamat,,
meski sadar hidupku sebenarnya untuk akhirat,,,
Bismillah,,,
Untuk-Mu,,untuk Ibuku,,Untuk Keluarga kecilku,,
dan Untuk Anakku,, (-_-)
semoga hidayah selalu menyertaiku dalam beribadah,,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

makalah

MAKNA DAN MASALAHNYA

Makalah
Disusun Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Semantik


 














 Oleh kelompok 1:
Idik Nursidik
Elis Lestari
Nina Herlina


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS

2016


Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul” Makna dan Masalahnya”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semantik.
Studi mengenai makna ini menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik. Ini karena kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang-lambang bahasa untuk menyampaikan makna-makna yang ada pada lambang tersebut. Jadi pengetahuan akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat diperlukan dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulis. Sehingga pada praktiknya makna akan menimbulkan masalahnya. Oleh sebab itu, penulis akan membahasnya.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika penulisanya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.

Penulis




DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1.. Latar Belakang ....................................................................................... 2
1.2.. Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3.. Tujuan Makalah....................................................................................... 3
1.4.. Kegunaan Makalah.................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 4
2.1. Pengertian Makna.................................................................................... 4
2.2. Informasi................................................................................................. 9
2.3. Maksud.................................................................................................. 10
2.4. Tanda, Lambang, Konsep dan Definisi................................................. 11
2.5.. Beberapa Kaidah Umum ...................................................................... 13
BAB III SIMPULAN........................................................................................... 16
Daftar Pustaka....................................................................................................... 18




 BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang Masalah
Salah satu ciri bahasa yaitu bahwa bahasa bersifat arbitrer. Dalam artian tidak ada hubungan wajib dari suatu bahasa dengan objek yang menjadi referennya. Ciri bahasa tersebut mengidentifikasikan bahwa kajian bahasa tidak hanya terbatas pada kajian struktur, akan tetapi bisa juga dikaji dari segi maknanya.
Sejak kemunculan ilmu yang mengkaji bahasa, para ahli cendrung focus pada kajian struktur bahasa, dimulai dari kajian fonem, morfem, frasa, klausa, kalimat dan wacana. Sedangkan kajian terhadap makna justru diabaikan. Mengapa demikian? Para ahli bahasa banyak yang berpendapat bahwa kajian terhadap makna sangatlah sulit. Hal ini dikarenakan setiap bahasa memiliki makna yang berbeda dari bahasa lain. Sehingga untuk menentukan suatu teori tentang makna bahasa, maka teori tersebut hanya akan berlaku pada bahasa yang diteliti saja, dan tidak akan berlaku pada bahasa yang lain.
Namun, seiring berkembangnya zaman, dan memandang begitu pentingnya peran bahasa dalam kehidupan manusia maka pada perkembangannya kajian terhadap makna dianggap sangatlah diperlukan. Oleh karena itu kajian terjadap makna pada bahasa mulai dilakukan, tujuannya yaitu untuk mencari hubungan antara lambang bahasa dan maknanya. Adapun cabang ilmu yang mengkaji makna dalam bahasa dikenal dengan semantik.
Semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang berada pada tataran makna. Verhaar, (dalam Pateda 2010, hlm.7) mengatakan bahwa semantik adalah teori makna atau teori arti ( Inggris semantics kata sifatnya semantik yang dalam Bahasa Indonesia dipadankan dengan kata semantik sebagai nomina dan semantis sebagai ajektiva). Kata semantik disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik ynag mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya, (Chaer, 1995, hlm.2). Dalam mata kuliah semantik ini beberapa ruang lingkup yang akan dibahas adalah berbagai masalah makna dalam linguistik. Salah satunya adalah pembahasan mengenai makna dan masalahnya.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian makna, informasi, maksud, tanda, lambang, konsep dan definisi, serta beberapa kaidah umum dalam studi semantik. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang perbedaan makna, informasi dan maksud, serta dapat menambah pengetahuan para pembaca mengenai studi semantik.
1.2.      Rumusan Masalah
Bentuk permasalahan yang akan dibahas oleh penulis adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian makna menurut ilmu semantik?
2.      Apa itu Informasi menurut ilmu semantik?
3.      Apa itu Maksud menurut ilmu semantik?
4.       Apa yang dimaksud dengan Tanda, Lambang, Konsep, dan Definisi menurut ilmu semantik?
5.      Bagaimana Kaidah Umum dalam Bahasa Indonesia menurut ilmu semantik?

1.3.      Tujuan Makalah 
            Sejalan dengan rumusan masalah di atas,
makalah ini disusun dengan tujuan untuk mngetahui dan mendeskripsikan:
1.       Mengetahui pengertian makna dalam ilmu semantik
2.      Mengetahui tentang informasi dalam ilmu semantik
3.       Mengetahui maksud dalam ilmu semantik
4.       Mengetahui Tanda, Lambang, Maksud, Konsep, dan Definisi dalam ilmu semantik
5.       Mengetahui Beberapa kaidah umum dalam ilmu semantik
1.4.      Kegunaan Makalah
       Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai bahan pembelajaran Semantik khususnya makna dan masalahnya. Secara praktis makalah ini diharapkan agar bermanfaat bagi:
1.      Penulis sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep pengetahuan;
2.      Pembaca, sebagai media informasi tentang makna dan masalahnya dalam kajian semantik .



BAB II 
PEMBAHASAN

2.1.      Pengertian Makna
            Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001, hlm.79) mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.82) mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 2013, hlm.286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1.    Maksud pembicara;
2.    Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3.    Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4.    Cara menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001, hlm.132).
          Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995, hlm.40) mengemukakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. Terkait dengan hal tersebut, Aminuddin (1998, hlm.50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti.
Dari pengertian para ahli bahsa di atas, dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
2.1.1.   Aspek-aspek Makna
Aspek-aspek makna dalam semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :
1.         Pengertian (sense)
Pengertian disebut juga dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama. Lyons (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.92) mengatakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata.
2.         Nilai rasa (feeling)
Aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna adalah kata0kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan dorongan maupun penilaian. Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
3.         Nada (tone)
Aspek makna nada menurut Shipley adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara ( dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.94). Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang bernilai rasa. Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
4.         Maksud (intention)
Aspek maksud menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.95) merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.
Aspek-aspek makna tersenut tentunya mempunyai pengaruh terhadap jenis-jenis makna yang ada dalam semantik. Di bawah ini akan dijelaskan seperti apa keterkaitan aspek-aspek makna dalam semantik dengan jenis-jenis makna dalam semantik.
a.         Makna Emotif
Makna emotif menurut Sipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.101) adalah makna yang timbul akibat adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan. Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimatEngkau kerbau., kata itu tentunya menimbulkan perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain,kata kerbau tadi mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau poerilaku malas, lamban, dan dianggapsebagai penghinaan. Orang yang dituju atau pendengarnya tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman. Bagi orang yang mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya akan menimbulkan rasa ingin melawan. Dengan demikian, makna emotif adalah makna dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal ini jelas berhubungan dengan perasaan. Makna emotif dalam bahasa indonesia cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan nilai.
b.         Makna Konotatif
Makna konotatif berbeda dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif, sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah Djajasudarma, 1999, hlm.9). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa. Kata nunga dalam kalimat tersebut bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya. Kata bunga yang ditambahkan dengan salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.
c.         Makna Kognitif
Makna kognitif adalah makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001, hlm.109). Kata pohon bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak dengan maksud pikiran.
d.         Makna Referensial
Referen menurut Palmer ( dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.125) adalah hubungan antara unsur-unsur linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa, proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang. Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.
Makna referensial menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Dapat juga dikatakan bahwa makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan melalui analisis komponen.
e.         Makna Piktorikal
Makna piktorikal menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.122) adalah makna yamg muncul akibat bayangan pendengar atau pembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca. Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis, misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus, seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual karenanya.
2.2.     Informasi
Jika dilihat dari pengertiannya, Informasi adalah gejala luar ujaran.  Sampai saat ini banyak orang, termasuk juga linguis yang menyatakan bahwa kata ayah sama maksudnya dengan kata bapak, sebab keduanya sama-sama mengacu pada orang tua laki-laki. Begitupun kalimat Dika menendang bola bersama maknanya dengan bola ditendang Dika, sebab keduanya memberi pengertian keterangan, atau informasi yang sama.
Sesungguhnya pendapat mereka itu keliru kalau dilihat dari prinsip umum di atas. Tetapi, mengapa terjadi demikian? Karena mengacaukan pengertian makna dengan informasi, maka banyak juga orang yang menyatakan suatu kalimat tertentu sama maknanya dengan parafase dari kalimat itu. Inipun keliru sebab parafase tidak lain dari pada rumusan informasi yang sama dalam bentuk ujaran yang lain.
Disamping parafase, ada juga istilah perifase, yaitu informasi yang sama dengan rumusan yang lebih panjang.
2.3.    Maksud
Di atas telah dibicarakan bedanya makna dengan informasi. Makna adalah gejala dalam ujaran, sedangkan informasi adalah gejala luar uajaran, selain informasi sebagai sesuatu yang luar ujaran adalagi sesuatu yang lain yang juga luar ujaran, yaitu yang disebut maksud.
            Informasi dan maksud sama-sama sesuatu yang luar ujaran. Hanya bedanya kalau informasi itu merupakan ssesuatu yang luar ujaran dilihat dari segi objeknya atau yang dibicarakan, sedangkan maksud dilihat dari segi orang yang berbicara, atau pihak subjeknya. Disini orang yang berbicara itu mengujarkan sesuatu ujaran entah berupa kalimat ataupun farasa tetapi yang dimaksudnya tidak sama dengan makna lahiriah ujaran itu. Disimpang-simpang jalan Jakarta banyak tukang dagang asongan menawarkan barang dagangannya kepada para pengemudi atau penumpang kendaraan (yang kebetulan kendaraannya tertahan arus lalu lintas) dengan kalimat Tanya ”Koran, koran?” atau “jeruk, pak?”. Padahal mereka tidak bermaksud bertanya, melainkan bermaksud menawarkan. Contoh lain, seorang ayah setelah memeriksa buku raport anaknya, dan melihat bahwa angka-angka dalam nuku raport itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya dengan nada memuji “raportmu bagus sekali, nak!”. Jelas, dia tidak bermaksud memuji walaupun nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur atau mungkin juga mengejek anak itu.
            Maksud banyak digunakan dalam bentuk-bentuk ujaran yang disebut metafora, ironi, litotes, dan bentuk gaya bahasa lain. Selama masih menyakut segi bahasa maka maksud itu masih dapat disebut sebagai persoalan bahasa. Tetapi kalau sudah terlalu jauh dan tidak berkaitan lagi dengan bahasamaka sudah tidak disebut lagi persoalan bahasa. Mungkin termasuk persoalan bidal studi lain; entah filsapat, antropologi ataupun psikologi.
2.4.    Tanda, Lambang, Konsep, dan Definisi
Dalam uraian diatas sudah disebutkan istilah tanda, lambang. Konsep. Untuk memahami pembicaraan selanjutnya dengan lebih baik, ada baiknya kalau ketiga kata itu dibicarakan lagi disertai dengan istilah simbol dan definisi atau batasan.
Tanda dalam bahasa Indonesia yang pertama adalah berarti “bekas”. Pukulan rotan yang cukup keras pada punggung akan memberi bekas. Bekas pukulan itu, yang berwarna kemerahan, menjadi tanda akan telah terjadi suatu pukulan dengan rotan pada temoat tersebut. Pada pagi hari secerah sinar matahari yang masuk kedalam kamar melalui celah-celah dinding merupakan tanda bahwa hari sudah siang. Dari contoh-contoh diatas kita dapat melihat bahwa tanda dengan hal yang ditandai bersipat langsung.
Lambang juga sebenarnya adalah tanda, hanya bedanya lambang ini tidak memberi tanda secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain, warna merah pada bendera sang merah putih merupakan lambang “keberanian” dan warna putih merupakan lambang “kesucian” seperti yang diungkapkan Ogden dan Richard (1871, hlm.9) lambang itu bersipat konversian, perjanjian tetapi ia dapat diorganisasikan, direkam dan dikomunikasikan. Jadi untuk mengetahui maksud lambang-lambang itu kita harus mempelajarinya. Coba anda renungkan apa yang dilambangkan oleh gambar bintang, gambar pohon beringin, gambar rantai, yang terdapat pada dada burung Garuda Pancasila! Satu lagi, tanda-tanda lalu lintas termasuk tanda atau lambang? Coba jelaskan!
Bunyi-bunyi bahasa atau satuan bahasa sebenarnya termasuk lambang sebab sifatnya konvesional. Untuk memahami makna atau yang diacu oleh bunyi-bunyi bahasa itu kita harus mempelajarinya, orang inggris tidak akan tahu bahwa <meja> dalam bahasa Indonesia itu adalah tablet dalam bahasanya; dan juga dia juga tidak akan tahu bahwa <anjing> dalam bahasa Indonesia sama dengan dog dalam bahasanya.
Bagaimana pula dengan kata simbol? Simbol adalah kata serapan yang berpadanan dengan kata Indonesia lambang. Dalam karangan ini kedua kata itu dianggap mewakili konsep yang sama meskipun distribusi penggunaannya berbeda.
Lambang bahasa (entah berupa kata, gabungan kata, maupun satuan ujaran lainnya) sama dengan lambang dan tanda-tanda dalam bidang lain”mewakili suatu konsep yang berbeda di dunia ide atau pikiran kita. Umpamanya kata <kursi> “mewakili” suatu konsep tempat duduk dengan wujudnya yang sedemikian rupa sehingga nyaman untuk diduduki . meskipun dalam dunia nyata ada sedimikian banyaknya jenis dan macam kursi tetapi gambar abstrak akan konsep kursi itu sama. Oleh karena itu, ada kemungkinan bila seseorang mendengar kata <kursi> yang diucapkan oleh seorang pengujar atau membacanya yang ditulis oleh seorang penulis, dia akan memiliki bayangan atau gambaran kursi yang tidak sama dengan yang dimaksud oleh si pengujar atau si penulis. Bisa terjadi si pengujar atau penulis memaksudkan <kursi> yang dapat dilipat-lipat (dan biasa disebut kursi lipat ) sedangkan si pendengar atau pembaca membayangkan kursi berjok empuk yang diduduki seorang direktur di kantor perusahaan besar. Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak pernah bisa “sempurna”. Oleh karena itulah kalau kita menyebut <kursi> atau <pemuda> atau lambang apa saja, orang sering bertanya “apa yang dimaksud dengan kursi?” atau juga “apa atau siapa yang Anda maksud dengan pemuda itu?” . Semua ini membuat orang berusaha merumuskan konsep-konsep yang ada dalam dunia idenya dalam suatu rumusan yang disebut definisi  atau batasan. Secara umum definisi atau batasan ini memberi rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep, walaupun definisi itu sendiri seringkali juga banyak kelemahannya.
2.5.     Beberapa Kaidah Umum
Dari pembicaraan diatas, dan untuk lebih mudah mengikuti pembicaraan selanjutnya berikut ini diberikan bebrapa kaidah umum yang perlu diperhatikan berkenaan dengan studi semantik.
1.    Hubungan antara sebuah kata/leksem dengan rujukan atau acuannya bersifat arbitrer. Dengan kata lain tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.
2.    Secara sinkronik makna sebuah kata/leksem tidak berubah, secara diakronik ada kemungkinan berubah. Maksudnya, dalam jangka waktu terbatas makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi dalam jangka waktu yang relatif tidak tidak terbatas ada kemungkinan bisa berubah. Namun, bukan berarti setiap kata akan berubah maknanya.
3.    Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda pula maknanya. Maksudnya, kalau ada dua buah kata/leksem yang bentuknya berbeda. Meskipun perbedaannya sedikit, tetapi maknanya pasti akan berbeda. Oleh karena itu, dua buah kata yang disebut bersinonim pasti kesamaan maknanya tidak persis seratus persen. Pasti ada perbedaannya. Secara operasional hal ini dapat dibuktikan. Misalnya kata, kini dan sekarang  adalah dua buah kata yang bersinonim. Tapi kata sekarang  dalam frase bininya yang sekarang...tidak dapat diganti dengan kata kini. Konstruksi *bininya yang kini adalah tidak gramatikal.
4.    Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri  yang berbeda dengan sistem semantik itu berkaitan erat dengan sistem budaya masyarakat pemakai bahasa itu, sedangkan sistem budaya yang melatarbelakangi setiap bahasa itu tidak sama.
5.    Makna setiap kata/leksem dalam suatu bahasa sangat diengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap anggota masyarajat yang bersangkutan. Misalnya, mkana kata babi  pada kelompok masyarakat Indonesia yang bukan beragama Islam.
6.    Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatika berbanding terbalik dengan luasnya bentuk tersebut. Sebagai contoh bandingkan bentuk-bentuk:
a.    Kereta
b.    Kereta api
c.    Kereta api ekspres
d.    Kereta api ekspres malam
e.    Kereta api ekspres malam luar biasa.
Makna kereta pada a sangat luas, dan lebih luas dari b makna kereta b lebih luas daripada c sedangkan c masih lebih luas daripada d dan makna d masih lebih luas dari makna e.



















BAB III
SIMPULAN

Dari uraian materi pada bagian isi dapat disimpulkan bahwa makna, informasi, dan maksud memiliki perbedaan. Makna merupakan gejala dalam ujaran atau dapat dikatakan sebagai tanda linguistik yang biasanya merujuk atau mengacu pada suatu referen. Sedangkan informasi adalah gejala luar ujaran. Dan maksud merupakan gejala diluar ujaran pula, namun perbedaannya dengan informasi adalah jika informasi merupakan sesuatu diluar ujaran yang dilihat dari segi objek atau yang dibicarakan, maka maksud merupakan sesuatu diluar ujaran yang dilihat dari segi subjek atau pengujar.
Selain istilah makna, informasi dan maksud, ada juga pembahasan mengenai tanda, lambang, konsep, dan definisi. Tanda merupakan hubungan yang bersifat langsung antara suatu kejadian dengan tanda tersebut, sedangkan lambang tidak memberi tanda secara langsung, melainkan dengan sesuatu yang lain. Konsep merupakan referen atau rujukan dari suatu lambang. Sedangkan definisi adalah rumusan yang lebih rinci dari suatu konsep.
Beberapa kaidah umum yang perlu diperhatikan berkenaan dengan studi semantik adalah :
a.         Hubungan antara sebuah kata / dengan rujukan atau acuannya bersifat arbitrer.
b.         Secara sinkronik makna sebuah kata / leksem tidak berubah, secara diakronik ada kemungkinan berubah
c.         Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda pula maknanya
d.         Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri yang berbeda
e.         Makna kata / leksem dipengaruhi pandangan hidup dan sikap anggota masyarakat.
f.         Luasnya makna sebuah gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya bentuk.



















DAFTAR PUSTAKA
Chaer, A. (2013). Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Bandung : Rineka Cipta
Pateda, M. (2010). Semantik. Leksikal. Bandung : Rineka Cipta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi

Jari Jemari Kelana

ruas jemari sang kelana,,
merangkai kata tanpa makna,,
hati hening bagai batu di bawah kemboja,,
mematung sendiri meradang asa,,,
spintas ruang di dalam hati,,
menjadi pelipur di masa lama,,,
membentangkan imaji tanpa henti,,,
sampai tinta menetes habis tak tersisa,,
raja dari pena,,,
jemari penyair tanpa cela,,,
apa yang tertuang itulah hati,,,
masa bodoh orang lain tak mengerti,,,,,


Terikat
Layang-layang..
Bebas terbang, Bebas melayang....
Namun tetap terikat pada benang....
Bukan karena angin dia tinggi...
Menggapai singgasana cakrawala...
Tapi karna terikat pada tali...
Hingga dia bisa sampai ke sana....
Janganlah lupa temptmu bepijak..
Setinggi apapun kita saat ini...
Awal mulanya kita sma...
Tanpa kehendak sang Pencipta...kita tak bisa jadi apa2...
Jadi tetaplah rendah hati...
Karena suatu saat kita semua sama akan mati....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Teknologi Informasi (8)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Teknologi Informasi (7)

Makalah
1. cover
2. Kata pengantar dan daftar isi
3. Pembahasan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Teknologi Informasi (6)

Daftar Hadir

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tugas Teknologi Informasi (5)

Denah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS