MAKNA DAN MASALAHNYA
Makalah
Disusun
Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Semantik
Oleh kelompok 1:
Idik
Nursidik
Elis
Lestari
Nina
Herlina
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2016
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke
Hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu
menyelesaikan makalah yang berjudul” Makna dan Masalahnya”. Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Semantik.
Studi mengenai makna ini menjadi
kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik. Ini karena kegiatan
berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang-lambang bahasa
untuk menyampaikan makna-makna yang ada pada lambang tersebut. Jadi pengetahuan
akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat
diperlukan dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulis. Sehingga pada
praktiknya makna akan menimbulkan masalahnya. Oleh sebab itu, penulis akan
membahasnya.
Makalah ini bukanlah karya yang
sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun
sistematika penulisanya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah
ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1.. Latar Belakang ....................................................................................... 2
1.2.. Rumusan Masalah.................................................................................... 2
1.3.. Tujuan Makalah....................................................................................... 3
1.4.. Kegunaan Makalah.................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 4
2.1.
Pengertian Makna.................................................................................... 4
2.2. Informasi................................................................................................. 9
2.3. Maksud.................................................................................................. 10
2.4. Tanda,
Lambang, Konsep dan Definisi................................................. 11
2.5.. Beberapa
Kaidah Umum ...................................................................... 13
BAB III
SIMPULAN........................................................................................... 16
Daftar
Pustaka....................................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Masalah
Salah satu ciri
bahasa yaitu bahwa bahasa bersifat arbitrer. Dalam artian tidak ada hubungan
wajib dari suatu bahasa dengan objek yang menjadi referennya. Ciri bahasa
tersebut mengidentifikasikan bahwa kajian bahasa tidak hanya terbatas pada
kajian struktur, akan tetapi bisa juga dikaji dari segi maknanya.
Sejak kemunculan
ilmu yang mengkaji bahasa, para ahli cendrung focus pada kajian struktur
bahasa, dimulai dari kajian fonem, morfem, frasa, klausa, kalimat dan wacana.
Sedangkan kajian terhadap makna justru diabaikan. Mengapa demikian? Para ahli
bahasa banyak yang berpendapat bahwa kajian terhadap makna sangatlah sulit. Hal
ini dikarenakan setiap bahasa memiliki makna yang berbeda dari bahasa lain.
Sehingga untuk menentukan suatu teori tentang makna bahasa, maka teori tersebut
hanya akan berlaku pada bahasa yang diteliti saja, dan tidak akan berlaku pada
bahasa yang lain.
Namun, seiring
berkembangnya zaman, dan memandang begitu pentingnya peran bahasa dalam kehidupan
manusia maka pada perkembangannya kajian terhadap makna dianggap sangatlah diperlukan.
Oleh karena itu kajian terjadap makna pada bahasa mulai dilakukan, tujuannya yaitu
untuk mencari hubungan antara lambang bahasa dan maknanya. Adapun cabang ilmu yang
mengkaji makna dalam bahasa dikenal dengan semantik.
Semantik merupakan salah satu cabang
linguistik yang berada pada tataran makna. Verhaar, (dalam Pateda 2010, hlm.7)
mengatakan bahwa semantik adalah teori makna atau teori arti ( Inggris semantics
kata sifatnya semantik yang dalam Bahasa Indonesia dipadankan dengan kata
semantik sebagai nomina dan semantis sebagai ajektiva). Kata semantik
disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik ynag
mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang
ditandainya, (Chaer, 1995, hlm.2). Dalam mata kuliah semantik ini beberapa
ruang lingkup yang akan dibahas adalah berbagai masalah makna dalam linguistik.
Salah satunya adalah pembahasan mengenai makna dan masalahnya.
Dalam makalah ini akan dibahas
mengenai pengertian makna, informasi, maksud, tanda, lambang, konsep dan
definisi, serta beberapa kaidah umum dalam studi semantik. Dengan demikian
diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang perbedaan makna, informasi dan
maksud, serta dapat menambah pengetahuan para pembaca mengenai studi semantik.
1.2.
Rumusan Masalah
Bentuk permasalahan yang akan dibahas
oleh penulis adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian makna menurut ilmu
semantik?
2. Apa itu Informasi menurut ilmu
semantik?
3. Apa itu Maksud menurut ilmu semantik?
4. Apa
yang dimaksud dengan Tanda, Lambang, Konsep, dan Definisi menurut ilmu
semantik?
5. Bagaimana Kaidah Umum dalam Bahasa
Indonesia menurut ilmu semantik?
1.3.
Tujuan Makalah
Sejalan dengan
rumusan masalah di atas,
makalah
ini disusun dengan tujuan untuk mngetahui dan mendeskripsikan:
1. Mengetahui pengertian makna dalam ilmu semantik
2. Mengetahui tentang informasi dalam
ilmu semantik
3. Mengetahui maksud dalam ilmu semantik
4. Mengetahui Tanda, Lambang, Maksud, Konsep,
dan Definisi dalam ilmu semantik
5. Mengetahui Beberapa kaidah umum dalam ilmu
semantik
1.4.
Kegunaan Makalah
Makalah
ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun
secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai bahan pembelajaran
Semantik khususnya makna dan masalahnya. Secara praktis makalah ini diharapkan
agar bermanfaat bagi:
1. Penulis sebagai wahana penambah
pengetahuan dan konsep pengetahuan;
2. Pembaca, sebagai media informasi
tentang makna dan masalahnya
dalam kajian semantik .
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Makna
Makna adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari semantik dan selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan.
Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001, hlm.79)
mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang
membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat.
Menurut Ullman (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.82) mengemukakan bahwa makna
adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de
Saussure ( dalam Abdul Chaer, 2013, hlm.286) mengungkapkan pengertian makna
sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda
linguistik.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna
dijabarkan menjadi :
1. Maksud
pembicara;
2. Pengaruh
penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok
manusia;
3. Hubungan
dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran
dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4. Cara
menggunakan lambang-lambang bahasa ( Harimurti Kridalaksana, 2001, hlm.132).
Bloomfied (dalam Abdul Wahab, 1995, hlm.40) mengemukakan bahwa makna adalah
suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur
penting situasi di mana penutur mengujarnya. Terkait dengan hal tersebut,
Aminuddin (1998, hlm.50) mengemukakan bahwa makna merupakan hubungan antara
bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga
dapat saling dimengerti.
Dari pengertian para ahli bahsa di atas,
dapat dikatakan bahwa batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan
karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda
dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
2.1.1. Aspek-aspek
Makna
Aspek-aspek makna dalam
semantik menurut Mansoer Pateda ada empat hal, yaitu :
1. Pengertian (sense)
Pengertian disebut juga
dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan
bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang
digunakan atau disepakati bersama. Lyons (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.92)
mengatakan bahwa pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan
kata lain di dalam kosakata.
2. Nilai rasa (feeling)
Aspek makna yang
berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal
yang dibicarakan.dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna
adalah kata0kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan
dorongan maupun penilaian. Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan
dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan
perasaan.
3. Nada (tone)
Aspek makna nada
menurut Shipley adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara ( dalam Mansoer
Pateda, 2001, hlm.94). Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang
bernilai rasa. Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar
akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
4. Maksud (intention)
Aspek maksud menurut
Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.95) merupakan maksud senang atau tidak
senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Maksud yang diinginkan dapat
bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau
politik.
Aspek-aspek makna
tersenut tentunya mempunyai pengaruh terhadap jenis-jenis makna yang ada dalam
semantik. Di bawah ini akan dijelaskan seperti apa keterkaitan aspek-aspek
makna dalam semantik dengan jenis-jenis makna dalam semantik.
a. Makna
Emotif
Makna emotif menurut
Sipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.101) adalah makna yang timbul akibat
adanya reaksi pembicara atau sikap pembicara mengenai atau terhadap sesuatu
yang dipikirkan atau dirasakan. Dicontohkan dengan kata kerbau dalam kalimatEngkau kerbau., kata itu tentunya menimbulkan
perasaan tidak enak bagi pendengar. Dengan kata lain,kata kerbau tadi
mengandung makna emosi. Kata kerbau dihubungkan dengan sikap atau poerilaku malas,
lamban, dan dianggapsebagai penghinaan. Orang yang dituju atau pendengarnya
tentunya akan merasa tersimggung atau merasa tidak nyaman. Bagi orang yang
mendengarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang ditujukan kepadanya tentunya
akan menimbulkan rasa ingin melawan. Dengan demikian, makna emotif adalah makna
dalam suatu kata atau kalimat yang dapat menimbulkan pendengarnya emosi dan hal
ini jelas berhubungan dengan perasaan. Makna emotif dalam bahasa indonesia
cenderung mengacu kepada hal-hal atau makna yang positif dan biasa muncul
sebagai akibat dari perubahan tata nilai masyarakat terdapat suatu perubahan
nilai.
b. Makna Konotatif
Makna konotatif berbeda
dengan makna emotif karena makna konotatif cenderung bersifat negatif,
sedangkan makna emotif adalah makna yang bersifat positif (Fathimah
Djajasudarma, 1999, hlm.9). Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi
perasaan kita terhadap apa yang diucapkan atau didengar. Misalnya, pada kalimat Anita menjadi bunga desa. Kata nunga dalam kalimat tersebut
bukan berarti sebagai bunga di taman melainkan menjadi idola di desanya sebagai
akibat kondisi fisiknya atau kecantikannya. Kata bunga yang ditambahkan dengan
salah satu unsur psikologis fisik atau sosial yang dapat dihubungkan dengan
kedudukan yang khusus dalam masyarakat, dapat menumbuhkan makna negatif.
c. Makna Kognitif
Makna kognitif adalah
makna yang ditunjukkan oleh acuannya, makna unsur bahasa yang sangat dekat
hubungannya dengan dunia luar bahasa, objek atau gagasan, dan dapat dijelaskan
berdasarkan analisis komponenya (Mansoer Pateda, 2001, hlm.109). Kata pohon
bermakna tumbuhan yang memiliki batang dan daun denga bentuk yang tinggi besar
dan kokoh. Inilah yang dimaksud dengan makna kognitif karena lebih banyak
dengan maksud pikiran.
d. Makna
Referensial
Referen menurut Palmer
( dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.125) adalah hubungan antara unsur-unsur
linguistik berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan dunia pengalaman
nonlinguistik. Referen atau acuan dapat diartikan berupa benda, peristiwa,
proses atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yangditunjuk oleh suatu lambang.
Makna referensial mengisyaratkan tentang makna yamg langsung menunjuk pada
sesuatu, baik benda, gejala, kenyataan, peristiwa maupun proses.
Makna referensial
menurut uraian di atas dapat diartikan sebagai makna yang langsung berhubungan
dengan acuan yang ditunjuk oleh kata atau ujaran. Dapat juga dikatakan bahwa
makna referensial merupakan makna unsur bahasa yanga dekat hubungannya dengan
dunia luar bahasa, baik berupa objek konkret atau gagasan yang dapat dijelaskan
melalui analisis komponen.
e. Makna
Piktorikal
Makna piktorikal
menurut Shipley (dalam Mansoer Pateda, 2001, hlm.122) adalah makna yamg muncul
akibat bayangan pendengar atau pembaca terhadap kata yang didengar atau dibaca.
Makna piktorikal menghadapkan manusia dengan kenyataan terhadap perasaan yang
timbul karena pemahaman tentang makna kata yang diujarkan atau ditulis,
misalnya kata kakus, pendengar atau pembaca akan
terbayang hal yang berhubungan dengan hal-hal yang berhubungan dengan kakus,
seperti kondisi yang berbau, kotoran, rasa jijik, bahkan timbul rasa mual
karenanya.
2.2. Informasi
Jika dilihat dari pengertiannya, Informasi
adalah gejala luar ujaran. Sampai saat ini banyak orang, termasuk
juga linguis yang menyatakan bahwa kata ayah
sama maksudnya dengan kata bapak, sebab keduanya sama-sama mengacu pada
orang tua laki-laki. Begitupun kalimat Dika menendang bola bersama maknanya
dengan bola ditendang Dika, sebab keduanya memberi pengertian keterangan, atau
informasi yang sama.
Sesungguhnya pendapat mereka itu keliru
kalau dilihat dari prinsip umum di atas. Tetapi, mengapa terjadi demikian?
Karena mengacaukan pengertian makna dengan informasi, maka banyak juga orang
yang menyatakan suatu kalimat tertentu sama maknanya dengan parafase dari
kalimat itu. Inipun keliru sebab parafase tidak lain dari pada rumusan
informasi yang sama dalam bentuk ujaran yang lain.
Disamping parafase, ada juga istilah
perifase, yaitu informasi yang sama dengan rumusan yang lebih panjang.
2.3. Maksud
Di atas telah dibicarakan bedanya makna
dengan informasi. Makna adalah gejala dalam ujaran, sedangkan informasi adalah
gejala luar uajaran, selain informasi sebagai sesuatu yang luar ujaran adalagi
sesuatu yang lain yang juga luar ujaran, yaitu yang disebut maksud.
Informasi dan maksud sama-sama sesuatu yang luar ujaran. Hanya bedanya kalau
informasi itu merupakan ssesuatu yang luar ujaran dilihat dari segi objeknya
atau yang dibicarakan, sedangkan maksud dilihat dari segi orang yang berbicara,
atau pihak subjeknya. Disini orang yang berbicara itu mengujarkan sesuatu
ujaran entah berupa kalimat ataupun farasa tetapi yang dimaksudnya tidak sama
dengan makna lahiriah ujaran itu. Disimpang-simpang jalan Jakarta banyak tukang
dagang asongan menawarkan barang dagangannya kepada para pengemudi atau
penumpang kendaraan (yang kebetulan kendaraannya tertahan arus lalu lintas)
dengan kalimat Tanya ”Koran, koran?” atau “jeruk, pak?”. Padahal mereka tidak
bermaksud bertanya, melainkan bermaksud menawarkan. Contoh lain, seorang ayah
setelah memeriksa buku raport anaknya, dan melihat bahwa angka-angka dalam nuku
raport itu banyak yang merah, berkata kepada anaknya dengan nada memuji
“raportmu bagus sekali, nak!”. Jelas, dia tidak bermaksud memuji walaupun
nadanya memuji. Dengan kalimat itu dia sebenarnya bermaksud menegur atau
mungkin juga mengejek anak itu.
Maksud banyak digunakan dalam bentuk-bentuk ujaran yang disebut metafora,
ironi, litotes, dan bentuk gaya bahasa lain. Selama masih menyakut segi bahasa
maka maksud itu masih dapat disebut sebagai persoalan bahasa. Tetapi kalau
sudah terlalu jauh dan tidak berkaitan lagi dengan bahasamaka sudah tidak
disebut lagi persoalan bahasa. Mungkin termasuk persoalan bidal studi lain;
entah filsapat, antropologi ataupun psikologi.
2.4. Tanda, Lambang, Konsep, dan
Definisi
Dalam uraian diatas sudah disebutkan
istilah tanda, lambang. Konsep. Untuk memahami pembicaraan selanjutnya dengan
lebih baik, ada baiknya kalau ketiga kata itu dibicarakan lagi disertai dengan
istilah simbol dan definisi atau batasan.
Tanda dalam bahasa Indonesia yang
pertama adalah berarti “bekas”. Pukulan rotan yang cukup keras pada punggung
akan memberi bekas. Bekas pukulan itu, yang berwarna kemerahan, menjadi tanda
akan telah terjadi suatu pukulan dengan rotan pada temoat tersebut. Pada pagi
hari secerah sinar matahari yang masuk kedalam kamar melalui celah-celah
dinding merupakan tanda bahwa hari sudah siang. Dari contoh-contoh diatas kita
dapat melihat bahwa tanda dengan hal yang ditandai bersipat langsung.
Lambang juga sebenarnya adalah tanda,
hanya bedanya lambang ini tidak memberi tanda secara langsung, melainkan
melalui sesuatu yang lain, warna merah pada bendera sang merah putih merupakan
lambang “keberanian” dan warna putih merupakan lambang “kesucian” seperti yang
diungkapkan Ogden dan Richard (1871, hlm.9) lambang itu bersipat konversian,
perjanjian tetapi ia dapat diorganisasikan, direkam dan dikomunikasikan. Jadi
untuk mengetahui maksud lambang-lambang itu kita harus mempelajarinya. Coba anda renungkan
apa yang dilambangkan oleh gambar bintang, gambar pohon beringin, gambar
rantai, yang terdapat pada dada burung Garuda Pancasila! Satu lagi, tanda-tanda
lalu lintas termasuk tanda atau lambang? Coba jelaskan!
Bunyi-bunyi bahasa atau satuan bahasa
sebenarnya termasuk lambang sebab sifatnya konvesional. Untuk memahami makna
atau yang diacu oleh bunyi-bunyi bahasa itu kita harus mempelajarinya, orang
inggris tidak akan tahu bahwa <meja> dalam bahasa Indonesia itu adalah tablet dalam bahasanya; dan juga dia juga
tidak akan tahu bahwa <anjing> dalam bahasa Indonesia sama dengan dog dalam bahasanya.
Bagaimana pula dengan kata simbol?
Simbol adalah kata serapan yang berpadanan dengan kata Indonesia lambang. Dalam karangan ini
kedua kata itu dianggap mewakili konsep yang sama meskipun distribusi
penggunaannya berbeda.
Lambang bahasa (entah berupa kata,
gabungan kata, maupun satuan ujaran lainnya) sama dengan lambang dan
tanda-tanda dalam bidang lain”mewakili suatu konsep yang berbeda di dunia ide
atau pikiran kita. Umpamanya kata <kursi> “mewakili” suatu konsep tempat
duduk dengan wujudnya yang sedemikian rupa sehingga nyaman untuk diduduki .
meskipun dalam dunia nyata ada sedimikian banyaknya jenis dan macam kursi
tetapi gambar abstrak akan konsep kursi itu sama. Oleh karena itu, ada
kemungkinan bila seseorang mendengar kata <kursi> yang diucapkan oleh
seorang pengujar atau membacanya yang ditulis oleh seorang penulis, dia akan
memiliki bayangan atau gambaran kursi yang tidak sama dengan yang dimaksud oleh
si pengujar atau si penulis. Bisa terjadi si pengujar atau penulis memaksudkan
<kursi> yang dapat dilipat-lipat (dan biasa disebut kursi lipat ) sedangkan si pendengar atau
pembaca membayangkan kursi berjok empuk yang diduduki seorang direktur di
kantor perusahaan besar. Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak
pernah bisa “sempurna”. Oleh karena itulah kalau kita menyebut <kursi>
atau <pemuda> atau lambang apa saja, orang sering bertanya “apa yang
dimaksud dengan kursi?” atau juga “apa atau siapa yang Anda maksud dengan
pemuda itu?” . Semua ini membuat orang berusaha merumuskan konsep-konsep yang
ada dalam dunia idenya dalam suatu rumusan yang disebut definisi atau batasan. Secara umum
definisi atau batasan ini memberi rumusan yang lebih teliti mengenai suatu
konsep, walaupun definisi itu sendiri seringkali juga banyak kelemahannya.
2.5. Beberapa Kaidah Umum
Dari pembicaraan diatas, dan untuk lebih
mudah mengikuti pembicaraan selanjutnya berikut ini diberikan bebrapa kaidah
umum yang perlu diperhatikan berkenaan dengan studi semantik.
1. Hubungan antara sebuah kata/leksem dengan
rujukan atau acuannya bersifat arbitrer. Dengan kata lain tidak ada hubungan
wajib di antara keduanya.
2. Secara
sinkronik makna sebuah kata/leksem tidak berubah, secara diakronik ada
kemungkinan berubah. Maksudnya, dalam jangka waktu terbatas makna sebuah kata
tidak akan berubah, tetapi dalam jangka waktu yang relatif tidak tidak terbatas
ada kemungkinan bisa berubah. Namun, bukan berarti setiap kata akan berubah
maknanya.
3. Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda pula
maknanya. Maksudnya, kalau ada dua buah kata/leksem yang bentuknya berbeda.
Meskipun perbedaannya sedikit, tetapi maknanya pasti akan berbeda. Oleh karena
itu, dua buah kata yang disebut bersinonim pasti kesamaan maknanya tidak persis
seratus persen. Pasti ada perbedaannya. Secara operasional hal ini dapat
dibuktikan. Misalnya kata, kini dan sekarang adalah dua buah kata yang
bersinonim. Tapi kata sekarang dalam frase bininya yang
sekarang...tidak dapat diganti dengan kata kini. Konstruksi *bininya yang kini
adalah tidak gramatikal.
4. Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri
yang berbeda dengan sistem semantik itu berkaitan erat dengan sistem budaya
masyarakat pemakai bahasa itu, sedangkan sistem budaya yang melatarbelakangi
setiap bahasa itu tidak sama.
5. Makna setiap kata/leksem dalam suatu bahasa
sangat diengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap anggota masyarajat yang
bersangkutan. Misalnya, mkana kata babi pada kelompok masyarakat
Indonesia yang bukan beragama Islam.
6. Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk
gramatika berbanding terbalik dengan luasnya bentuk tersebut. Sebagai contoh
bandingkan bentuk-bentuk:
a. Kereta
b. Kereta api
c. Kereta api ekspres
d. Kereta api ekspres malam
e. Kereta api ekspres malam luar biasa.
Makna kereta pada a sangat luas, dan
lebih luas dari b makna kereta b lebih luas daripada c sedangkan c masih lebih
luas daripada d dan makna d masih lebih luas dari makna e.
BAB III
SIMPULAN
Dari uraian materi pada bagian isi
dapat disimpulkan bahwa makna, informasi, dan maksud memiliki perbedaan. Makna
merupakan gejala dalam ujaran atau dapat dikatakan sebagai tanda linguistik
yang biasanya merujuk atau mengacu pada suatu referen. Sedangkan
informasi adalah gejala luar ujaran. Dan maksud merupakan gejala diluar ujaran
pula, namun perbedaannya dengan informasi adalah jika informasi merupakan
sesuatu diluar ujaran yang dilihat dari segi objek atau yang dibicarakan, maka
maksud merupakan sesuatu diluar ujaran yang dilihat dari segi subjek atau
pengujar.
Selain istilah makna, informasi dan
maksud, ada juga pembahasan mengenai tanda, lambang, konsep, dan definisi.
Tanda merupakan hubungan yang bersifat langsung antara suatu kejadian dengan
tanda tersebut, sedangkan lambang tidak memberi tanda secara langsung,
melainkan dengan sesuatu yang lain. Konsep merupakan referen atau rujukan dari
suatu lambang. Sedangkan definisi adalah rumusan yang lebih rinci dari suatu
konsep.
Beberapa kaidah umum yang perlu
diperhatikan berkenaan dengan studi semantik adalah :
a. Hubungan antara sebuah kata / dengan rujukan atau acuannya
bersifat arbitrer.
b. Secara sinkronik makna sebuah kata / leksem
tidak berubah, secara diakronik ada kemungkinan berubah
c. Bentuk-bentuk yang berbeda akan berbeda pula
maknanya
d. Setiap bahasa memiliki sistem semantik
sendiri yang berbeda
e. Makna kata / leksem dipengaruhi pandangan
hidup dan sikap anggota masyarakat.
f. Luasnya makna sebuah gramatikal berbanding terbalik dengan
luasnya bentuk.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, A. (2013). Pengantar
Semantik Bahasa Indonesia. Bandung : Rineka Cipta
Pateda, M. (2010). Semantik.
Leksikal. Bandung : Rineka Cipta